Sekretaris Umum PP Muhammadiyah: Menolak Jenazah Korban Covid-19 bukan Perilaku Islami

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti mengatakan tak menjadi persoalan jika dua jenazah pasien dalam pengawasan (PDP) virus Corona atau Covid 19 dimakamkan dalam satu liang kubur. Itu tidak masalah sepanjang prosesnya sesuai dengan tuntutan agama. Misalnya tetap menghadap kiblat, dimakamkan dengan penuh kemuliaan, dan tetap diberikan tanda. Jenazah tidak boleh dibakar. Tetapi tetap dirawat sebagaimana mestinya. Masyarakat hendaknya tidak berlebihan dalam menyikapi mereka yang terpapar virus corona baik yang masih dalam pantauan, sakit, atau wafat. Mereka tetap harus kita perlakukan secara manusiawi dengan penuh penerimaan dan kasih sayang.

Jika mereka beragama Islam, hak mereka sebagai Muslim harus kita dinaikan. Salah satunya apabila ada yang meninggal kita rawat sebagaimana tuntutan Syariat: dimandikan, dikafani, disalatkan, dan dimakamkan. Karena kondisinya tentu tidak semuanya. Kewajiban itu bersifat fardhu kifayah. Cukup diwakili oleh petugas medis atau keluarga yang sangat dekat apabila sehat dan kuat. Menolak jenazah korban Covid 19 bukanlah perilaku islami. Tugas kita justru membangkitkan optimisme keluarga yang ditinggalkan dan menerima mereka sebagai bagian dari masyarakat.

Mereka sudah berat menanggung musibah dan beban itu hendaknya kita ringankan dengan membantu dan menerima mereka dengan sepenuhnya. Warga Muhammadiyah hendaknya mematuhi Maklumat PP Muhammadiyah dan protokol kesehatan yang diterbitkan Pemerintah. Warga Muhammadiyah hendaknya bersama sama mendukung program Muhammadiyah Covid 19 Command Center(MCCC) dengan berbagi dan saling tolong menolong sesuai kemampuan dan kesempatan yang ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *